Cakrawalabarat.com, JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Jawa Tengah untuk menekan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus mengurangi sebaran abu vulkanis di udara.
Operasi tersebut dilakukan dengan memicu hujan untuk membasahi lahan, memadamkan sisa titik api, serta meluruhkan abu vulkanis dari atmosfer. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi risiko gangguan kualitas udara dan jarak pandang.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan pelaksanaan OMC diperlukan menyusul sejumlah kejadian karhutla di Jawa Tengah hingga Minggu (6/9/2026).
Di Kabupaten Klaten, kebakaran melanda area seluas 2 hektare di Bukit Talang, Desa Talang, Kecamatan Bayat. Api yang terpantau mulai pukul 14.20 WIB tersebut berhasil dipadamkan tim gabungan pada pukul 16.30 WIB.
Sementara itu, kebakaran di Kabupaten Sragen menghanguskan 4 hektare lahan di Desa Bentak, Kecamatan Kalijambe. Kebakaran yang terjadi pada pukul 15.30 WIB tersebut berhasil ditangani personel gabungan BPBD, TNI, Polri, dan relawan pada hari yang sama.
Karhutla juga terjadi di Kabupaten Banyumas, yakni di Desa Gunung Wetan, Kecamatan Jatilawang; Desa Wlahar, Kecamatan Wangon; serta Desa Kalisube, Kecamatan Banyumas. Total lahan yang terbakar mencapai 6,05 hektare dan seluruhnya berhasil dipadamkan pada pukul 14.15 WIB.
Rangkaian kejadian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, kondisi lahan yang mengering masih berpotensi memicu kebakaran susulan.
Operasi Modifikasi Cuaca di Jateng
Merespons kondisi tersebut, BNPB memusatkan pelaksanaan OMC di Pangkalan Udara Ahmad Yani, Semarang, dengan mengerahkan pesawat Cessna bernomor registrasi PK-SNH.
Berton mengatakan BNPB menjalankan operasi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta BPBD Provinsi Jawa Tengah. Koordinasi dilakukan untuk memantau pergerakan awan, titik rawan karhutla, serta sebaran abu vulkanis secara waktu nyata.
OMC memasuki misi penerbangan Sorti 1 pada Senin (7/9/2026). Tim Flight Scientist melakukan penyemaian awan di wilayah pesisir Cilacap, Banyumas, dan Brebes, pada radial 240–260 derajat dengan jarak 80–90 nautical miles (nm) dari Semarang.
Dalam penerbangan tersebut, BNPB menyemai 1.000 liter bahan berupa campuran air dan kalsium klorida (CaCl2) pada ketinggian 9.000 kaki. Penyemaian diarahkan ke awan Cumulus dengan puncak pada ketinggian 9.000 kaki dan dasar 6.000 kaki. Pada pukul 16.18 WIB, angin tercatat bertiup dari arah timur-timur laut dengan kecepatan 5–8 knot.
Kalsium klorida digunakan sebagai Cloud Condensation Nuclei (CCN) atau inti kondensasi awan. Material tersebut menjadi tempat menempelnya uap air untuk mengembun sehingga membantu mempercepat pembentukan dan penggabungan butir air hingga turun sebagai hujan.
“Curahan hujan yang terbentuk diharapkan dapat membasahi lahan, memadamkan sisa karhutla, sekaligus meluruhkan abu vulkanis dari atmosfer,” ujar Berton dalam keterangan resmi, Selasa (8/9/2026).
Selain penyemaian awan, BNPB menyiapkan metode penyemprotan kabut air (watermist) yang dicampur dengan surfaktan untuk kondisi atmosfer tertentu.
Berbeda dengan penyemaian awan, metode watermist dan surfaktan tidak digunakan sebagai CCN untuk memicu hujan. Metode tersebut ditujukan untuk membasahi dan mengikat partikel debu vulkanis di udara agar lebih berat dan jatuh ke permukaan.
Dengan kombinasi kedua metode tersebut, OMC Jawa Tengah diarahkan untuk menangani dua risiko sekaligus, yakni potensi karhutla dan sebaran abu vulkanis.
BNPB mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengikuti petunjuk keselamatan dari BPBD setempat, termasuk menggunakan masker apabila diperlukan.
Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “BNPB Modifikasi Cuaca, Tekan Karhutla dan Abu Vulkanik di Jawa Tengah“

Leave a Reply