Cakrawalabarat.com, KLATEN — Selain krisis air bersih, kekeringan membuat rumput sumber pakan ternak di wilayah Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, semakin terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan pakan terutama hijauan, warga terpaksa membeli.
Salah satu warga Dukuh Grintingan, Desa Tegalmulyo, Sehono, 50, mengatakan krisis air bersih mulai dirasakan warga di kampungnya sejak dua bulan terakhir. “Kami merasakan sangat luar biasa karena kering di daerah sini,” ungkap Sehono saat ditemui wartawan di rumahnya, Selasa (8/9/2026).
Selain air untuk kebutuhan keluarga, warga juga membutuhkan air untuk kebutuhan ternak dan ladang. Di sisi lain, kondisi yang kering tanpa hujan selama beberapa waktu membuat warga semakin kesulitan mendapatkan hijauan untuk pakan ternak.
“Karena di daerah sini rumput kering, harus beli hijauan di bawah dan itu mahal,” kata Sehono.
Terkait kebutuhan air untuk keluarga, Sehono menjelaskan ada bantuan dari BPBD. Air bantuan hanya cukup untuk kebutuhan konsumsi keluarga.
Ketika kebutuhan air banyak termasuk untuk ternak dan tanaman, warga harus membeli air bersih. Harga air bersih per tangki hingga sampai ke wilayah Grintingan sekitar Rp350.000 untuk ukuran tangki 7.000 liter. Kebutuhan air itu cukup untuk 10 hari ketika kebutuhan air cukup banyak termasuk untuk ternak.
Sementara, harga pakan berupa hijauan per pikap kecil kisaran Rp350.000 hingga Rp400.000. Untuk satu truk senilai Rp850.000 per rit. “Untuk ternak enam ekor, kebutuhan pakan itu cukup untuk 15 hari,” jelas Sehono.
15 Ekor kambing Dijual
Untuk menutup kebutuhan pakan hingga air, Sehono menjual ternak berupa kambing. Selama dua bulan terakhir, Sehono sudah menjual 15 ekor kambing dengan total harga Rp11 juta. Jual ternak itu di antaranya untuk memenuhi kebutuhan ternak sebanyak enam ekor sapi.
“Untuk membeli pakan ya kami mengumpulkan [menabung] dari rezeki di musim hujan dan baru keluar di musim seperti ini. Ya mungkin ada pepatah kata orang pelihara sapi makan pedet. Kalau sekarang jual kambing untuk beli pakan,” kata Sehono.
Sehono berharap rencana untuk mengalirkan air dari wilayah bawah yang berada di dekat sumber air bisa menjangkau hingga wilayah Tegalmulyo termasuk di perkampungan teratas. “Karena memang di wilayah atas ini susah cari air,” kata Sehono.
Kepala Desa (Kades) Tegalmulyo, Sutarno, mengatakan hampir seluruh wilayah di desanya terdampak kekeringan. Hanya sebagian kecil kampung atau dua RT yang masih tercukupi kebutuhan air dari salah satu sumber dengan debit yang kecil.
Sementara, warga yang berada di 20 RT lainnya terdampak kekeringan saat kemarau tiba. Total warga yang terdampak kekeringan sekitar 800 keluarga.
Selain mengandalkan bantuan, warga membeli air untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Harga per tangki bervariasi tergantung lokasi. “Kalau sampai wilayah atas itu bisa Rp350.000 per tangki. Kalau kampung di sekitar balai desa ini sekitar Rp250.000 per tangki,” jelas Sutarno.
Sutarno menjelaskan belum lama ini ditemui BPBD serta bupati guna membahas solusi menangani krisis air bersih yang terjadi setiap kemarau di Tegalmulyo.
Dari pembahasan itu, ada rencana untuk mengalirkan air dari wilayah bawah atau di daerah sumber air ke Tegalmulyo yang menjadi salah satu desa tertinggi di Kabupaten Bersinar. Sutarno berharap upaya itu bisa membuahkan hasil dan wilayah Tegalmulyo terbebas dari dampak kekeringan setiap kemarau.
Sebelumnya, berbagai upaya sudah dilakukan desa. Selain pencarian sumber air, ada bantuan program Pamsimas. “Itu pernah dapat dari program Pamsimas dan mengalirkan dari sumber mata air dari resapan Gunung Merapi. Ternyata tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan warga,” kata Sutarno.
Sutarno juga membenarkan warga menjual ternak untuk memenuhi kebutuhan ternak lainnya. Biasanya, ternak yang dijual yakni kambing untuk kebutuhan pakan ternak yang lebih besar yakni sapi. Namun, harga kambing saat ini disebut sedang anjlok.
“Jual kambing paling tinggi saat ini Rp500.000 per ekor,” jelas dia.
Rata-rata warga di wilayah desa tersebut memiliki ternak. Warga membeli pakan hijauan seiring rerumputan di sekitar desa semakin terbatas lantaran mengering memasuki kemarau.
“Hijauan kami ambil beli dari truk. Sudah sejak dulu beli. Kalau saat ini harganya Rp750.000 per rit untuk pakan. Untuk yang punya sapi tiga ekor, itu cukup untuk kebutuhan satu bulan,” kata Sutarno.
Sejumlah Desa Alami Kekeringan
Sebelumnya, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menjelaskan sejumlah wilayah di Kecamatan Kemalang selama ini menjadi daerah langganan krisis air bersih. Pada kemarau tahun ini, ada empat desa di Kemalang yang mengalami kekeringan. Selain Kemalang, wilayah terdampak kekeringan meliputi satu desa di Kecamatan Bayat dan satu desa di Kecamatan Wedi.
Keempat desa di Kemalang itu yakni sebagian Desa Sidorejo, Kendalsari, Tlogowatu, dan Tegalmulyo. Setiap hari, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyalurkan bantuan air bersih ke daerah terdampak kekeringan.
Selain bersumber dari APBD Klaten, bantuan air bersih datang dari berbagai stakeholder termasuk kalangan swasta melalui kegiatan corporate social responsiblity (CSR). Selain bantuan air bersih yang disalurkan secara rutin, Hamenang mengatakan upaya penyelesaian krisis air secara permanen terus dilakukan.
“Alhamdulillah, Pak Kalak BPBD bisa berkomunikasi dengan Dewan Dakwah Indonesia untuk menggunakan air dari sumurnya,” kata Hamenang saat ditemui wartawan di Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Selasa (1/9/2026).
Sumur yang dimaksud yakni Stasiun Air Dewan Dakwah di Desa Bumiharjo, Kecamatan Kemalang. Secara geografis, lokasi sumur itu berada di dataran lebih rendah dibandingkan wilayah Desa Sidorejo.
Hamenang menjelaskan pengajuan Pemkab untuk memanfaatkan air dari stasiun air itu disetujui. Rencananya, air dari sumur itu dialirkan ke bak penampungan umum di Dukuh Kaliwuluh, Desa Sidorejo yang berjarak 1,5 km dari sumur Dewan Dakwah.
Dari bak penampungan umum di Dukuh Kaliwuluh, air kembali dialirkan ke wilayah atas di bak penampungan tak jauh dari Kantor Desa Sidorejo. “Nah dari sini [bak penampungan terakhir], air bersih kemudian bisa dialirkan ke empat RT di Desa Sidorejo dan di wilayah Desa Kendalsari,” kata Hamenang.
Dengan upaya tersebut, Hamenang berharap krisis air bersih saat kemarau tiba di sejumlah wilayah Sidorejo maupun Kendalsari bisa teratasi. Di dua desa lainnya di Kecamatan Kemalang, Hamenang menjelaskan BPBD sudah berkomunikasi Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo untuk pembuatan umur dalam. Sebelumnya sudah ada survei geolistrik dan ditemukan potensi sumber air dengan debit 5 liter per detik.
“Sehingga insyaallah nanti cukup untuk membantu sedulur di Tegalmulyo dan Tlogowatu. Harapan kami semoga akhir tahun ini selesai dan semoga tidak ada lagi permasalahan krisis air bersih ataupun kekeringan di Kemalang,” ungkap dia.

Leave a Reply