Serunya Jemparingan di Semarang, Merawat Tradisi Panahan Khas Mataraman

Serunya Jemparingan di Semarang, Merawat Tradisi Panahan Khas Mataraman
Potret dua perempuan Gen Z sedang belajar jemparingan atau panahan tradisional khas Kerajaan Mataram di Omah Alas Desa Wisata Kandri Kota Semarang, Selasa (25/8/2026) (Daerah/Fitroh Nurikhsan)

Cakrawalabarat.com, SEMARANG — Putri Sandiya Bassalamah, 20, dan Lolita Anggraeni, 20, duduk bersimpuh di atas tikar. Keduanya memegang busur dan anak panah, kemudian perlahan menarik tali busur sembari membidik sasaran di hadapan mereka. Sesaat kemudian, anak panah tersebut dilepaskan dan menancap di papan sasaran.

Dua perempuan yang sama-sama dari Generasi Z atau en Z itu baru pertama kali menjajal jemparingan. Mereka belajar olahraga panahan tradisional khas Kerajaan Mataram tersebut di Omah Alas, Desa Wisata Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, pada Selasa (25/8/2026). 

Putri, warga Cirebon yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Unnes mengaku tidak menyangka anak panah yang dilepaskannya melesat dan menancap pada sasaran yang tergantung. Dari empat anak panah percobaan pertama, satu di antaranya berhasil mengenai target.

“Saya nggak ekspetasi satu anak panah bisa sasaran. Padahal asal jepret-jepret saja. Dari tiga busur pertama nggak kena, yang keempat baru kena sasaran,” ujar Putri sumringah saat ditemui Espos, Selasa. 

Selain membutuhkan konsentrasi, menurut Putri, olahraga jemparingan juga memerlukan tenaga yang cukup besar. Perawakannya yang kecil membuatnya sempat kesulitan saat memegang busur yang cukup besar dan menarik tali untuk melepaskan anak panah.

Kendati begitu, Putri tetap menikmati momen pertamanya belajar jemparingan. Baginya, olahraga panahan tradisional tersebut terasa menyenangkan karena menjadi pengalaman yang belum pernah dilakukan. 

“Jemparingan ini seru dan bagus. Perlu untuk terus dilestarikan. Anak-anak sini [Kandri] harus bisa menyebarluaskan panahan tradisional ini ke anak-anak di Kota Semarang,” paparnya. 

Hal senada disampaikan teman Putri, Lolita. Perempuan kelahiran Semarang ini menilai jemparingan membutuhkan tenaga cukup besar, selain konsentrasi dan kondisi fisik yang prima saat menarik busur.

“Kesulitannya karena [busur] berat dan butuh tenaga yang kuat. Jadi sebelum latihan harus fit dan sarapan. Ini pengalaman pertama saya belajar jemparingan,” ungkap Lolita. 

Ketertarikan Lolita belajar jemparingan juga tak lepas dari keinginannya mengenal sekaligus melestarikan olahraga tradisional. Menurutnya, generasi muda seperti dirinya memiliki peran penting dalam menjaga warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang. 

Di sisi lain, Pengelola Omah Alas Desa Wisata Kandri, Wahid, mengatakan jemparingan tidak semata-mata membidik target sasaran. Olahraga tradisional ini menjadi sarana melatih konsentrasi sekaligus mengendalikan diri.

“Di jemparingan selain melatih konsentrasi, kita menggunakan rasa. Jadi lebih ke rasa kalau jemparingan. Tidak harus sampai target, tetapi lebih ke menata hati. Tenang, kemudian kita lepaskan,” ujar Wahid. 

Wahid menyebut sekitar 40 orang dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, anak muda hingga orang dewasa, mengikuti dan belajar jemparingan. Di Omah Alas, kegiatan tersebut rutin dilakukan sebulan sekali setiap Minggu Legi berdasarkan penanggalan Jawa. 

Jemparingan juga memiliki sejumlah perbedaan dengan panahan modern. Beberapa di antaranya peserta wajib mengenakan pakaian adat saat mengikuti jemparingan. Selain itu, posisi memanah dilakukan sambil duduk bersila bagi laki-laki dan bersimpuh bagi perempuan.

Aturan tersebut menjadi bagian dari budaya jemparingan agar peserta tidak semata-mata mengandalkan nafsu saat melepaskan anak panah, melainkan mengutamakan ketenangan dan rasa.

“Jemparingan itu tidak harus pakai nafsu, tapi mengutamakan rasa. Itu yang menjadi pembeda dengan panahan modern yang dilakukan dengan posisi berdiri,” tandas Wahid. 

Di tengah derasanya berbagai olahraga modern, jemparingan menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal kembali tradisi. Dari sebuah tikar, busur, dan anak panah, mereka tak hanya belajar membidik sasaran, tetapi juga belajar duduk tenang, berkonsentrasi, dan menata rasa.

Leave a Reply