Cakrawalabarat.com, SOLO — Daerah Media Group berkolaborasi dengan Solo Voice sukses menggelar acara Nyanyian Sepulang Bermain di Radya Litera Multifunction Hall, Minggu (17/5/2026). Acara ini menjadi ruang nostalgia bagi peserta dari berbagai kalangan untuk kembali mengenang masa kecil melalui lagu-lagu anak dan soundtrack kartun populer era 1990-an hingga 2000-an.
Pantauan Espos di lokasi, peserta tampak antusias bernyanyi bersama sepanjang acara. Sejumlah lagu kenangan yang dibawakan di antaranya Balon Udara yang dipopulerkan Sherina, soundtrack Chibi Maruko Chan, A Whole New World dari soundtrack Aladdin, You’ll Be In My Heart dari soundtrack Tarzan, hingga Lihat Lebih Dekat yang juga dipopulerkan Sherina.
Suasana hangat semakin terasa ketika para peserta ikut menyanyikan setiap lagu secara bersama-sama. Banyak peserta terlihat menikmati momen bernostalgia sambil mengenang masa kecil mereka.
Acara ini turut didukung oleh Super O2 Air Mineral, Go-Day Food, Sinergi Production, Poofy Puff Solo, dan Selasar Meet & Eat.

Ruang Nostalgia Bersama
Division Head of Creative Hub Literaworks by Daerah Media Group, Ferdinand S. Kusumo, mengatakan acara tersebut dihadirkan sebagai ruang nostalgia yang hangat dan menyenangkan.
Menurutnya, lagu anak-anak dan soundtrack kartun merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masa kecil generasi 1990-an hingga 2000-an.
“Melihat kerinduan akan ruang bernostalgia yang hangat dan menyenangkan, Daerah berkolaborasi dengan Solo Voice menghadirkan Nyanyian Sepulang Bermain,” ujarnya, Minggu.
Ferdinand menilai acara ini bukan sekadar momen bernyanyi bersama, tetapi juga menjadi ruang ekspresi untuk melepas rindu, tertawa, dan merayakan memori kolektif yang sama.
Founder Solo Voice, Dinaring Megayu Kartika, menilai antusiasme peserta dalam acara tersebut sangat positif. Menurut perempuan yang akrab disapa Deenar Tan itu, peserta datang dari berbagai kelompok usia, terutama mereka yang ingin kembali mengenang lagu-lagu yang menemani masa kecil.
“Suasananya terasa hangat dan penuh semangat karena semua bisa ikut menikmati acara bersama,” ujarnya.
Ia mengungkapkan hampir 50% peserta merupakan orang yang baru pertama kali mengikuti agenda Solo Voice. Meski sempat merasa canggung di awal acara, para peserta perlahan mulai percaya diri, terutama ketika dilibatkan dalam harmonisasi suara.
“Karena ini adalah ruang aman yang diciptakan untuk bernyanyi,” tegasnya.
Deenar Tan menambahkan salah satu misi Solo Voice adalah menghadirkan kembali lagu-lagu anak melalui ruang publik yang ramah anak dan inklusif.
“Kami juga ingin menghadirkan event yang inklusif dan ke depan berharap bisa berkolaborasi bersama teman-teman difabel,” katanya.
Profil Solo Voice
Solo Voice berawal dari sebuah utas di media sosial yang kemudian berkembang menjadi komunitas untuk mewadahi banyak orang bernyanyi bersama.
“Everyone can sing” tidak hanya menjadi jargon semata, tetapi juga diwujudkan sebagai ruang bagi banyak orang untuk bisa bernyanyi bersama tanpa memandang usia, agama, ras, status, gender, pekerjaan, maupun sekat-sekat lainnya.

Leave a Reply