Riset Indef: Efek Ekonomi Program MBG & KDMP Rendah, Hanya 5% UMKM yang Bermitra

Riset Indef: Efek Ekonomi Program MBG & KDMP Rendah, Hanya 5% UMKM yang Bermitra
Menteri Perdagangan Budi Santoso (ketiga dari kanan) mengamati proses penyajian makanan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Semanggi 2 Solo, Senin (21/9/2026). Kunjungan kerja di SPPG setempat selain untuk monitoring juga memastikan adanya keterlibatan UMKM lokal sehingga dapat memberi manfaat langsung bagi masyarakat. (Daerah/J Howi Widodo).

Cakrawalabarat.com, JAKARTA — Riset yang dilakukan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyimpulkan bahwa kucuran anggaran ratusan triliun rupiah dari pemerintah untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dinilai belum sukses dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif.

Alih-alih mendapatkan untung, sebagian pelaku Usaha Mikor Kecil dan Menengah (UMKM) justru mencatatkan penurunan kegiatan bisnis.

Tim Riset Indef, Fadhila Maulida, mengungkapkan adanya ketimpangan tajam antara jangkauan program dan keterlibatan riil pelaku usaha di akar rumput. 

Kesimpulan ini ditarik berdasarkan survei yang dilakukan pada Agustus 2026 terhadap 1.800 pelaku UMKM formal dan informal di berbagai wilayah Indonesia. Secara popularitas, program ini sangat dikenal.

Survei mencatat 97% responden mengenal MBG dan program tersebut telah hadir di 92% desa atau kelurahan tempat responden berada.

“Namun, hanya 5% UMKM formal dan 1% UMKM informal yang bermitra atau menjajaki kemitraan. Partisipasi dalam KDMP bahkan lebih rendah lagi,” papar Fadhila dalam laporannya, Rabu (28/10/2026).

Dampak minimnya pelibatan rantai pasok lokal ini terlihat pada absennya efek pengganda (multiplier effect). Sekitar 80% UMKM mengaku tidak melihat adanya peluang usaha baru yang tercipta dari kedua megaproyek pemerintah tersebut.

Ironisnya, survei justru menemukan 22% responden melaporkan penurunan kegiatan usaha akibat hadirnya program MBG, sementara yang mengalami peningkatan bisnis hanya bertengger di angka 5%.

Indef mencatat bahwa dampak negatif ini sangat dirasakan oleh UMKM informal. Kondisi ini mengindikasikan terjadinya substitusi permintaan di masyarakat. 

Manfaat ekonomi dari kucuran belanja pemerintah dinilai hanya terkonsentrasi pada pelaku-pelaku usaha tertentu, sehingga efek tetesan ke bawah (trickle-down effect) menjadi sangat minim.

Indef menegaskan bahwa efektivitas program ini sangat bergantung pada kemampuan penyelenggara dalam mengintegrasikan UMKM ke dalam rantai pasok, sekaligus meminimumkan dampak persaingan terhadap usaha lokal yang sudah beroperasi sebelumnya.

Untuk menyelamatkan program agar tepat sasaran secara ekonomi, Indef merekomendasikan pemerintah untuk memperluas dan menginklusifkan pengadaan UMKM lokal. 

Langkah ini harus dibarengi dengan penyederhanaan prosedur, kepastian tenggat pembayaran kepada pemasok, serta pengembangan pembiayaan berbasis kontrak.  Selain itu, fungsi KDMP perlu diperkuat agar dapat berperan penuh sebagai agregator produksi dan distribusi di tingkat lokal.

Berita ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul Survei Indef: Efek Ganda MBG Rendah, Partisipasi UMKM Lokal Mandek di Level 5%

Leave a Reply