Cakrawalabarat.com, SOLO — Tahir Solo Museum (Culture Science and Technology) yang berlokasi di Kecamatan Jebres, Solo, rencananya resmi dibuka untuk umum pada Minggu (26/7/2026). Museum ini menghadirkan berbagai koleksi bertema ilmu pengetahuan, sejarah, dan seni, mulai dari replika serta fosil dinosaurus, astronomi, antariksa, hingga STEAM hub.
Tahir Solo Museum menawarkan harga tiket masuk sebesar Rp30.000 untuk anak-anak atau pelajar, Rp50.000 untuk dewasa, serta paket tahunan Rp400.000 bagi pelajar yang ingin mempelajari STEAM. Adapun jam operasional museum yakni Selasa hingga Minggu, pukul 09.00 WIB–17.00 WIB.
Museum ini mendapat pinjaman koleksi langsung dari Tiongkok. Di area lobby hall, pengunjung disambut koleksi bertema alam semesta, evolusi kehidupan, hingga seni arsitektur Gaudí. Zona evolusi kehidupan menampilkan fosil dan replika robot dinosaurus, seperti Pterosauria, Tyranosaurus, Mammoth, hingga Yangchuanosaurus.
Tersedia pula layar informasi dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin. Meski demikian, transisi konten di layar terasa cukup cepat sehingga agak sulit dibaca. Beruntung, ada petugas pemandu (edukator) yang siap melayani para pengunjung.
Naik ke lantai satu, terdapat area eksplorasi luar angkasa yang menampilkan pakaian misi antariksa, replika menara peluncur roket tertinggi di Wenchang (Tiongkok), satelit Beidou, Chang’e 1 Satellite, hingga Yutu-2 Lunar Rover.
Sementara di lantai dua, terdapat zona pameran karya Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret (UNS). Di area library gallery, terdapat zona pameran dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Adapun di lantai lower ground, terdapat STEAM hub hasil kolaborasi Fakultas Teknik UNS dan Bengawan Team UNS.
Bengawan Unmanned Vehicle Team UNS memamerkan karya riset mahasiswa berupa kendaraan tanpa awak, seperti pesawat dan kapal tanpa awak. Para mahasiswa terlibat aktif memberikan edukasi langsung kepada pengunjung, salah satunya Salma Salsabila.
Mahasiswa Teknik Industri Fakultas Teknik UNS tersebut mengungkapkan timnya diajak berkolaborasi di Tahir Solo Museum selama enam bulan.
“Kami mengapresiasi Tahir Solo Museum yang upaya melibatkan mahasiswa untuk menampilkan karya karena tidak banyak museum yang menampilkan riset mahasiswa terkait sains. Ini upaya menunjukkan hasil riset kami kepada masyarakat,” kata dia kepada Espos.
Menurutnya, Tahir Solo Museum menghadirkan koleksi yang sangat menarik. Pengunjung tidak sekadar melihat, tetapi juga bisa merasakan pengalaman langsung (experience) di dalam museum.
Lengkapi Ekosistem Wisata Kota Solo
Wali Kota Solo, Respati Ardi, menjelaskan masyarakat Solo mendapatkan berkah tersendiri dengan hadirnya museum baru ini. Meski masih ada tahapan pembangunan berikutnya, masyarakat sudah bisa menikmati satu kubah (dome) Tahir Solo Museum.
Ia menambahkan, kehadiran museum sains ini melengkapi ekosistem museum di Kota Solo sekaligus menambah daya tarik wisata baru yang berpotensi mendongkrak kunjungan wisatawan.
Sementara itu, pendiri Grup Mayapada sekaligus Tahir Foundation, Dato’ Sri Tahir, menyampaikan bahwa koleksi unggulan seperti fosil asli dipinjam dari Tiongkok dengan konsep rotasi bergantian.
“Secara teori dipinjam enam bulan, tetapi kami mengajukan perpanjangan. Begitu juga koleksi robotika dan planet akan terus diperbarui, jadi tidak menetap begitu saja. Akan selalu ada koleksi baru yang kami masukkan,” katanya.

Leave a Reply