Cakrawalabarat.com, SRAGEN — Sejumlah perusahaan dengan penanaman modal asing (PMA) di Kabupaten Sragen terkena dampak melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (AS). Perusahaan PMA mengandalkan bahan baku produksinya dari impor. Harga bahan baku impor melejit sehingga biaya operasional produksi membengkak.
Berdasarkan data dari DPMPTSP, jumlah perusahaan PMA di Sragen yang terdaftar ada 13 unit tetapi hanya sembilan unit yang beroperasi. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sragen, Erwan Adhitya Suddin, kepada Espos, Senin (18/5/2026), mengungkapkan melemahnya nilai Rupiah terhadap Dollar AS secara umum tidak berdampak pada investasi yang masuk ke Kabupaten Sragen.
Dia menerangkan nilai Rupiah melemah justru berimbas kepada perusahaan-perusahaan yang bahan bakunya impor. “Jadi investasi yang sudah jalan dengan bahan baku impor yang paling ngefek karena jelas operasional mereka menjadi tinggi. Bahan baku impor tersebut di antaranya bahan baku benang, plastik, dan bahan baku lainnya. Apalagi bahan baku untuk konstruksi yang impor juga terasa banget,” ujar dia.
Erwan menyampaikan sekarang saja banyak proyek infrastruktur yang tender ulang, apalagi dengan adanya nilai Rupiah melemah. Dia mengungkapkan banyak perusahaan-perusahaan PMA yang sudah menang tender di luar negeri menjadi pusing. “Mereka sudah tender segala macam, pengadaan, tahu-tahu bahan bakunya naik. Situasi ini menjadi krisis di perusahaan-perusahaan,” jelas dia.
Tenaga Kerja
Dia mengungkapkan banyak perusahaan-perusahaan yang mengangkat tenaga kerja musiman atau tenaga kerja kontrak. Dia menerangkan tenaga kerja tetap hanya di tataran manajerial, termasuk mandor-mandor tetapi untuk buruh lepas mayoritas merupakan tenaga kerja kontrak.
“Kontraknya biasanya tiga bulan. Sewaktu-waktu terjadi krisis atau omzet menurun maka kontrak mereka bisa saja tidak diperpanjang. Itu cara perusahaan mensiasati Peraturan Menteri Tenaga kerja. Ya, ngakali dengan mengangkat buruh musiman,” jelas dia.
Erwan mengatakan mereka tidak diputus hubungan kerjanya tetapi hanya kontraknya habis dan tidak diperpanjang. Ketika kontrak selesai, jelas dia, tidak ada pesangon dan segala macamnya. Erwan mengetahui kondisi perusahaan berdasarkan laporan kegiatan penanaman modal. Lewat laporan tersebut, Erwan bisa mengetahui naik dan turunnya omzet perusahaan.
Erwan menerangkan para perusahaan PMA tidak bisa mengandalkan bahan baku dari dalam negeri untuk menjaga kualitas produk. Dia berpendapat mereka mau tidak mau tetap mengandalkan bahan baku impor. Seperti di antara Gemolong-Kalijambe, jelas dia, ada industri pengolahan plastik maka bahan bakunya impor juga.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sragen, Suwardi, juga sependapat. Dia menyatakan bagi perusahaan yang bahan bakunya impor pasti terdampak dengan nilai Rupiah yang melemah. Sementara perusahaan yang bahan bakunya lokal, jelas dia, bisa menaikkan sedikit.

Leave a Reply