Cakrawalabarat.com, WONOGIRI — Memasuki usia 285 tahun pada 19 Mei 2026, dengan perkembangan situasi eksternal maupun internal, membuat Wonogiri harus mencari strategi baru untuk mendorong ekonomi terus tumbuh.
Selama berdekade-dekade, struktur perekonomian Kabupaten Wonogiri bertumpu pada sektor pertanian. Ketergantungan yang tinggi pada sektor primer ini sayangnya tidak memberikan daya dongkrak yang signifikan terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi daerah.
Sektor pertanian yang rentan terhadap cuaca dan fluktuasi harga pasar membuat capaian ekonomi Wonogiri kerap tertinggal dari daerah tetangga di Soloraya. Menyikapi kondisi itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri kini mulai memutar kemudi strategi.
Pemerintah daerah mulai melirik potensi lain yaitu sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (ekraf). Dua sektor ini dipandang sebagai alternatif sumber pertumbuhan ekonomi baru di Kabupaten Wonogiri.
Secara modal alam, wilayah ini didukung lanskap geografi paling lengkap di eks Keresidenan Surakarta. Wonogiri memiliki kawasan pegunungan di sisi selatan lereng Gunung Lawu, bentang pertanian yang luas, hingga eksotisme jajaran pantai karang di sisi selatan di Kecamatan Paranggupito.
Sayangnya, potensi itu belum tergarap dengan baik. Pemkab masih meraba-raba dalam mengeksekusi cetak biru pariwisata daerah. Lambannya pergerakan sektor pariwisata ini tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Wonogiri yang menunjukkan performa sektor pariwisata lokal masih kalah dengan daerah lain.
Tingkat kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) ke Wonogiri relatif lebih rendah jika dikomparasikan dengan mayoritas daerah lain di Soloraya seperti Karanganyar atau Klaten. Hal ini juga dipertegas dengan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Wonogiri yang masih lesu.
Modal Ekraf Melimpah
Rata-rata keterisian hotel di Kota Sukses ini tidak pernah melebihi dari angka 25%. Bahkan, pada masa puncak liburan (peak season) sekalipun, BPS mencatat angka tertinggi hanya menyentuh kisaran 24%, dengan rata-rata lama menginap (length of stay) tamui hanya semalam.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Wonogiri, Haryanto, tidak menampik potret tersebut. Karena itu sekarang Pemkab Wonogiri mulai serius mengembangkan sektor pariwisata dan ekraf.
Dua sektor ini perlu digarap karena memang bisa menjadi motor baru penggerak ekonomi di Kabupaten Wonogiri. Apalagi Wonogiri memiliki sebenarnya memiliki modal awal yang cukup untuk mengembangkan dua sektor itu.
Haryanto memaparkan pariwisata tidak akan pernah bisa berdiri sendiri tanpa sokongan ekonomi kreatif. Jika pariwisata adalah wadah fisik atau destinasinya, maka ekraf adalah isi yang memberikan pengalaman bagi wisatawan. Ekraf menyuplai kebutuhan pelancong lewat subsektor kuliner, fashion, seni pertunjukan, kriya, hingga arsitektur tempat wisata.
“Keduanya harus digarap bersamaan. Di Wonogiri, modal ekraf itu sudah tersedia melimpah untuk menunjang daya tarik wisata agar wisatawan mendapatkan pengalaman berkesan yang tidak mereka dapatkan di daerah lain,” kata Haryanto saat berbincang dengan Espos di Wonogiri, Sabtu (16/5/2026).
Dia menjelaskan dari 17 subsektor ekraf, Disporapar membidik dua subsektor utama yang diyakini mampu menjadi lokomotif penggerak ekraf Wonogiri, yaitu kuliner dan seni pertunjukan.
Pada lini kuliner, menu bakso dan mi ayam khas Wonogiri diletakkan sebagai produk ikonik utama. Kuliner ini memiliki kekuatan merek yang sangat kuat secara nasional berkat jaringan kaum boro.
Selain bakso, Wonogiri memiliki potensi komoditas kopi lokal yang rantai produksinya hampir seluruhnya diproduksi di Wonogiri. Sementara pada lini seni pertunjukan, kekayaan tradisi lokal seperti tari Kethek Ogleng dan pertunjukan wayang kulit dikolaborasikan untuk memperpanjang durasi kunjungan wisatawan.
Butuh Travel Agent
Keberadaan perajin tatah sungging wayang kulit dan batik khas Wonogiren di subsektor kriya turut memperkaya ekosistem ini. Haryanto menambahkan integrasi kedua subsektor ekraf ini tidak melulu membutuhkan ruang publik berskala besar. Pengembangan justru efektif dilakukan di lokus yang lebih intim dan berbasis komunitas seperti desa wisata.
“Salah satu kendala terbesar kami adalah tiadanya travel tourism agent lokal di Wonogiri yang secara khusus mengemas dan menawarkan paket wisata lokal Wonogiri ke luar daerah. Dampak lanjutannya, promosi wisata kita menjadi sangat lemah dan kurang bergaung,” jelasnya,
Padahal, Disporapar telah memetakan destinasi wisata alam unggulan yang siap jual. Di antaranya objek wisata legendaris Waduk Gajah Mungkur (WGM), kawasan hutan wisata Girimanik di Slogohimo, jejaring desa wisata, hingga deretan pantai perawan di Paranggupito.
Namun, menurutnya seberapa indahnya destinasi tersebut, tanpa sentuhan investasi dan jaringan promosi sektor swasta, pariwisata Wonogiri akan sulit berkembang. Perubahan orientasi ekonomi ini sejalan dengan visi Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno. Dia mengamini pariwisata dan ekraf adalah sektor paling potensial dan realistis untuk mendongkrak perekonomian daerah di masa depan.
Pengembangan pariwisata dan ekraf merupakan strategi yang masuk akal lantaran memiliki efek domino yang luas bagi masyarakat. Ketika sektor ini bergeliat, perputaran uang tidak hanya mandek di kas daerah, tetapi langsung mengalir ke kantong-kantong rakyat kecil. “Selain memicu pertumbuhan ekonomi, juga bisa meningkatkan PAD [pendapatan asli daerah],” kata Setyo.
Setyo menyebut kini mulai Pemkab menggandeng swasta dalam pengembangan dua sektor itu, salah satunya berkolaborasi langsung dengan paguyuban pengusaha bakso asli Wonogiri yang tersebar di perantauan. Tagline ‘Bakso Wonogiri Mendunia’ sudah digarap dan gaungkan secara masif sejak kurang lebih setahun belakangan ini yang menjadi bagian dari promosi daerah.

Leave a Reply