Legenda Eyang Raden Santri di Balik Makam Kuno yang Muncul di WGM

Legenda Eyang Raden Santri di Balik Makam Kuno yang Muncul di WGM
Penampakan beragam makam kuno di dasar Waduk Gajah Mungkur saat debit air menurun, belum lama ini. (Daerah/Ahmad Kurnia)

Cakrawalabarat.com, WONOGIRI — Fenomena munculnya kompleks pemakaman kuno di dasar Waduk Gajah Mungkur (WGM) kembali menyedot perhatian publik. Seiring menurunnya volume air waduk di wilayah Kelurahan/Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, puluhan batu nisan yang puluhan tahun tenggelam mulai bertengger di atas lahan yang mengering.

Di balik munculnya reruntuhan kijing berangka tahun 1957 hingga 1977 tersebut, menyeruak cerita tutur legendaris yang melekat kuat dalam memori masyarakat setempat. Lahan yang kini mengering itu dulunya merupakan Dukuh Sentono, Desa Ngungkingsari, sebuah permukiman padat yang menyimpan jejak syiar Islam seorang tokoh sesepuh berjuluk Eyang Raden Santri.

Tokoh masyarakat Kelurahan Wuryantoro, Suparso, 77, menuturkan kompleks makam yang kini timbul tenggelam itu dulunya merupakan tempat peristirahatan terakhir Eyang Raden Santri beserta anak cucu dan warga umum. Sosok Eyang Raden Santri sangat dihormati lantaran diyakini sebagai perintis ajaran Islam di kawasan Sentono.

“Dulunya itu makam kampung, tapi yang terkenal sesepuhnya namanya Eyang Raden Santri. Sebelum dipindah karena proyek waduk, makam beliau banyak didatangi peziarah dari mana-mana, bahkan sering dipakai untuk topobroto sebelum warga berangkat ke masjid,” ungkap Suparso, belum lama ini.

Perjalanan spiritual Eyang Raden Santri hingga menjadi tokoh agama terpandang diwarnai cerita yang terbilang mistis dan unik. Suparso menceritakan, mulanya Eyang Raden Santri hanyalah seorang petani biasa. Kehidupannya berubah saat ia tengah mencangkul untuk membuat saluran air di sawahnya.

Kala itu, melintas seorang pria tak dikenal yang berjalan persis di atas saluran air yang baru saja dibuatnya. Merasa garapannya terancam rusak, Eyang Raden Santri menegur pria tersebut. Namun, sang musafir yang tak dikenal itu justru memintanya mengecek kembali bekas pijakan kakinya. Ajaibnya, tidak ada sedikit pun saluran air yang rusak.

Terkejut dan merasa ada kejanggalan, Eyang Raden Santri lantas mengejar pria misterius itu. Begitu terkejar, sang pria bertanya alasan Eyang Raden Santri membuntutinya. Karena melihat kesaktian yang tak biasa, Eyang Raden Santri mengutarakan niatnya untuk berguru dan mengikutinya.

Pria misterius itu lantas membawa Eyang Raden Santri ke pinggir Sungai Bengawan Solo dan membuatkannya sebuah rakit jenis getek. Pria itu berpesan agar Eyang Raden Santri tidak turun atau menepi sebelum rakit tersebut berhenti sendiri.

“Eyang Raden Santri menuruti petunjuk itu. Menumpang rakit sederhana, beliau menyusuri aliran Bengawan Solo selama berhari-hari tanpa makan, hingga akhirnya rakit itu berhenti di Kampung Keblokan, Desa Sendang Ijo, Kecamatan Selogiri,” jelas Suparso yang juga mantan dalang tersebut.

Dalam kondisi lemas, Eyang Raden Santri ditemukan warga Keblokan dan dirawat hingga pulih. Di kampung itulah ia mulai di-Islamkan, dibimbing membaca ayat-ayat Al-Qur’an, hingga disematkan nama Eyang Raden Santri. Setelah menguasai ilmu agama, ia diutus kembali ke kampung halamannya di Sentono untuk menyebarkan syiar Islam.

“Pria sakti yang ditemuinya di sawah itu kami prediksi adalah salah satu anggota Wali Songo, entah Sunan Kalijaga atau Sunan Giri,” tambah Suparso.

Jejak Eyang Raden Santri di Tengah WGM

Penampakan beragam makam kuno di dasar Waduk Gajah Mungkur saat debit air menurun, belum lama ini. (Daerah/Ahmad Kurnia)
Penampakan beragam makam kuno di dasar Waduk Gajah Mungkur saat debit air menurun, belum lama ini. (Daerah/Ahmad Kurnia)

Jejak sejarah Dukuh Sentono beserta pemakamannya harus terhenti ketika proyek megah Waduk Gajah Mungkur digulirkan pada kurun waktu 1974–1981. Pembangunan WGM menenggelamkan sedikitnya 51 desa yang tersebar di tujuh kecamatan di Kabupaten Wonogiri.

Saat proses relokasi atau bedol desa berlangsung, sebagian besar warga Dukuh Sentono bertransmigrasi ke Pulau Sumatera. Kerangka jenazah Eyang Raden Santri beserta makam keluarga dan warga lainnya telah dipindahkan ke pemakaman baru di area Balai Kantor Kelurahan Wuryantoro.

Batu nisan lama ditinggalkan dan dibuang, digantikan dengan yang baru di lokasi yang aman dari genangan.

Oleh sebab itu, batu nisan kuno yang muncul saat air surut saat ini pada dasarnya sudah dalam kondisi suwung atau kosong tanpa kerangka jenazah. Tulisan nama dan angka tahun yang terkikis air menjadi saksi bisu peradaban masa lalu yang terendam.

Secara umum, Camat Wuryantoro, Soemardjono Fadjari, menjelaskan kemunculan peninggalan makam kuno di dasar WGM merupakan fenomena tahunan yang rutin terjadi setiap kali memasuki musim kemarau.

“Setiap kemarau biasanya makam-makam itu mulai terlihat. Tapi saat ini baru sebagian karena debit air waduk masih lumayan tinggi akibat curah hujan pada musim penghujan sebelumnya,” kata Soemardjono.

Ia menambahkan, biasanya fenomena surutnya air waduk sudah tampak signifikan sejak bulan Agustus. Namun, tahun ini proses penyusutan berjalan lebih lambat.

Fenomena surutnya air WGM ini pun membawa berkah tersendiri bagi warga sekitar. Lahan bekas genangan waduk yang mengering dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam musiman, seperti menanam kacang tanah dan padi, serta dimanfaatkan sebagai area mencari rumput gajah untuk pakan ternak.

Leave a Reply