Cakrawalabarat.com, TEHERAN — Negosiasi Iran dan Oman terkait pembentukan jalur pelayaran sementara melalui Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir, kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei pada Senin.
Sebelumnya, pada 25 Agustus, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bekerja sama dengan Oman untuk membentuk koridor pelayaran sementara melalui Selat Hormuz sekaligus melakukan pembersihan ranjau di jalur tersebut. Kedua negara juga sepakat melanjutkan pembahasan mengenai pembentukan koridor pelayaran permanen.
“Dapat dikatakan bahwa negosiasi Iran-Oman telah mencapai tahap akhir,” kata Baghaei dalam konferensi pers.
“Bahkan, kemungkinan dalam beberapa hari mendatang, nota kesepahaman Iran-Oman terkait jalur sementara dan yang aman di Selat Hormuz akan didaftarkan ke Organisasi Maritim Internasional (IMO),” imbuhnya.
Namun, dengan mengutip seorang pejabat senior Timur Tengah, The New York Post pada Kamis melaporkan Oman menolak proposal Iran terkait pengelolaan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, khususnya rencana memungut biaya dari kapal sebagai imbalan layanan keamanan dan lingkungan.
Iran Siapkan Zona Maritim Terbatas
Di tengah negosiasi tersebut, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan Iran akan menetapkan zona maritim “terbatas” baru di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Setiap kapal yang memasuki kawasan tersebut akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi.
Menurut laporan televisi pemerintah Iran Press TV, zona tersebut akan dimulai dari garis blokade Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) dan membentang ke sejumlah wilayah di Teluk.
“Setiap kapal yang memasuki zona baru ini akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi,” kata Rezaei dalam wawancara televisi.
Rezaei juga mengatakan Iran dan Oman akan menandatangani kesepakatan dalam beberapa hari mendatang mengenai koridor baru melalui Selat Hormuz, dengan titik masuk dan keluarnya berada di bawah kendali Iran.
Ia menegaskan Selat Hormuz “sepenuhnya ditutup dan berada di bawah kendali angkatan bersenjata”, sekaligus menyebut pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa jalur strategis tersebut masih terbuka sebagai “kebohongan besar”.
Sebelum Iran menutup selat tersebut, lebih dari 100 kapal yang mengangkut lebih dari 100 juta ton kargo melintasinya setiap hari, kata Rezaei. Kini, hanya tujuh atau delapan kapal yang membawa kebutuhan pokok untuk Iran yang melintas.
“Amerika berusaha menyelundupkan lima hingga enam kapal dengan biaya besar, tetapi kapal-kapal ini biasanya diserang,” ujarnya tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Rezaei mengatakan Iran memutuskan tidak menenggelamkan kapal-kapal tersebut karena membawa minyak dan tindakan itu dapat merusak lingkungan kawasan.
Ia juga mengeklaim Iran berhasil menguji rudal antikapal baru terhadap kapal Angkatan Laut AS sekitar 48 jam sebelumnya.
“Untuk pertama kalinya, kami menguji rudal antikapal kami di atas kapal perang Amerika,” kata Rezaei.
“Rudal khusus ini membuat Amerika seperti berada di neraka, dan mereka melarikan diri,” tambahnya tanpa menyebut nama kapal atau lokasi pengujian.
Kanada Siapkan Sanksi Tambahan
Sementara itu, Kanada pada Minggu berjanji berkoordinasi dengan sekutu internasional untuk menjatuhkan sanksi tambahan dan mempertahankan tekanan terhadap Iran terkait aktivitasnya di Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand dan Menteri Keuangan Francois-Philippe Champagne dalam pernyataan bersama mendesak Iran segera menghentikan “aktivitas destabilisasi di Timur Tengah”.
Mereka menyoroti ancaman terhadap kapal yang berupaya melintasi Selat Hormuz serta dukungan Iran terhadap kelompok proksi di kawasan.
Anand dan Champagne mengatakan Ottawa bekerja sama erat dengan negara-negara G7 untuk mendukung upaya yang dipimpin AS bersama Prancis dan Inggris dalam membuka kembali Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut juga menegaskan dukungan berkelanjutan Kanada terhadap Operation Economic Outcast, kampanye sanksi tekanan maksimum yang dipimpin AS, serta upaya lain untuk mengganggu kemampuan Iran dalam “mendanai kegiatan teroris”.
Sejak 2010, Kanada telah menjatuhkan sanksi terhadap 492 individu dan entitas Iran berdasarkan Undang-Undang Tindakan Ekonomi Khusus (SEMA) dan Undang-Undang Keadilan bagi Korban Pejabat Asing Korup.
Kedua menteri mengatakan Kanada akan terus mengupayakan “langkah-langkah tambahan” bersama mitra global untuk memaksa Iran menghentikan “perilaku jahatnya”.
Iran belum memberikan tanggapan segera terhadap tuduhan Kanada tersebut.
Iran Bantah Blokade Picu Kelaparan
Secara terpisah, Rezaei membantah klaim bahwa blokade ekonomi AS menyebabkan kelaparan meluas di Iran. “Klaim bahwa blokade ekonomi AS menyebabkan kelaparan besar di Iran adalah kebohongan besar,” kata Rezaei kepada penyiar pemerintah Iran IRIB.
Ia mengatakan pemerintah Iran telah lama mempersiapkan diri menghadapi kondisi tersebut dan memiliki persediaan makanan serta kebutuhan pokok yang mencukupi.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari. Teheran kemudian merespons dengan serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap Israel serta kepentingan AS di berbagai wilayah kawasan.
Ketegangan militer terus berlangsung di tengah perselisihan mengenai sanksi dan pelayaran melalui Selat Hormuz.

Leave a Reply