Asal Usul Anak Krakatau dan Sejarah Krakatau Lama

Asal Usul Anak Krakatau dan Sejarah Krakatau Lama
Gunung Krakatau. (volcano.si.edu)

Cakrawalabarat.com, SOLO — Nama Gunung Anak Krakatau kerap memunculkan pertanyaan. Jika disebut sebagai “anak”, lalu di mana gunung Krakatau yang menjadi induknya? Apakah gunung tersebut masih ada atau telah hilang akibat letusan dahsyat pada 1883?

Pertanyaan itu kembali mencuat seiring meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat episode erupsi menerus berlangsung sekitar 25 jam, mulai Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga Minggu (6/9/2026) pukul 00.04 WIB.

Aktivitas tersebut kemudian diikuti erupsi susulan, termasuk erupsi tipe Strombolian pada pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik. Status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga.

Namun, kisah Anak Krakatau sesungguhnya dimulai jauh sebelum gunung api tersebut muncul di permukaan laut. Untuk memahami asal-usulnya, sejarah harus ditarik kembali ke letusan besar Krakatau pada 1883.

Sebelum letusan tersebut, Krakatau bukan hanya satu gunung api. Kawasan itu merupakan kompleks gunung api yang terdiri atas beberapa bagian, termasuk Rakata, Danan, dan Perbuwatan.

Aktivitas besar Krakatau mulai terjadi pada 20 Mei 1883. Berdasarkan catatan Badan Geologi Kementerian ESDM, letusan semakin intensif hingga mencapai puncaknya pada 26-28 Agustus 1883.

Rangkaian letusan tersebut menyebabkan sebagian besar kompleks Krakatau runtuh dan membentuk kaldera besar.

Danan dan Perbuwatan hancur akibat letusan, sedangkan sebagian Rakata masih tersisa. Karena itu, Krakatau lama sebenarnya tidak hilang sepenuhnya.

Sebagian tubuh kompleks gunung api tersebut masih dapat ditemukan dalam bentuk Pulau Rakata dan sejumlah sisa daratan di kawasan Krakatau.

Letusan Krakatau pada 1883 menjadi salah satu erupsi terbesar dalam sejarah modern. Material vulkanik terlontar dalam jumlah sangat besar ke atmosfer, sementara runtuhan tubuh gunung dan aktivitas vulkanik memicu tsunami yang melanda kawasan Selat Sunda.

Lembaga Smithsonian mencatat lebih dari 36.000 orang meninggal akibat bencana tersebut. Sebagian besar korban jiwa disebabkan oleh tsunami.

Lahir dari Kaldera Krakatau

Setelah letusan besar 1883, aktivitas vulkanik di kawasan Krakatau tidak berhenti. Dari kawasan kaldera yang terbentuk akibat kehancuran kompleks gunung api itu, kemudian muncul gunung api baru.

Erupsi yang membangun Anak Krakatau mulai terjadi pada akhir 1927. Pada awal kemunculannya, tubuh gunung masih berada di bawah permukaan laut.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1929, gunung api tersebut mulai muncul di atas permukaan laut. Sejak saat itu, Anak Krakatau terus tumbuh melalui aktivitas erupsi.

Nama Anak Krakatau pun digunakan untuk menyebut gunung api baru yang tumbuh di dalam kaldera bekas letusan Krakatau 1883.

Dengan kata lain, Anak Krakatau bukanlah anak dari sebuah gunung yang masih berdiri utuh di dekatnya. Gunung api tersebut merupakan generasi baru yang muncul dari sistem vulkanik Krakatau setelah letusan besar menghancurkan sebagian besar kompleks gunung sebelumnya.

Sejak muncul ke permukaan, Anak Krakatau terus mengalami perubahan. Badan Geologi mencatat gunung api tersebut telah mengalami lebih dari 100 kali erupsi sejak kemunculannya pada 1927 hingga 2011. Aktivitasnya dapat berupa erupsi eksplosif maupun efusif, dengan periode aktivitas yang berbeda-beda.

Perubahan besar kembali terjadi pada 22 Desember 2018. Aktivitas erupsi disertai longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau yang kemudian memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.

Peristiwa tersebut menyebabkan sebagian besar tubuh Anak Krakatau runtuh. Setelahnya, gunung api itu kembali memasuki fase pertumbuhan dan membangun tubuh baru melalui serangkaian erupsi.

Berdasarkan catatan Badan Geologi, rangkaian erupsi berskala rendah setelah peristiwa 2018 berlangsung sebagai fase konstruksi hingga 16 Desember 2023.

Aktivitas Anak Krakatau kembali meningkat pada 2026. Erupsi pada 2 Juli 2026 membuat status aktivitas gunung api tersebut dinaikkan dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga.

Meski demikian, kondisi Anak Krakatau saat ini tidak dapat langsung disamakan dengan Krakatau sebelum letusan 1883.

Berdasarkan evaluasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga 5 September 2026, tubuh Anak Krakatau yang kembali terbentuk setelah peristiwa 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Aktivitas dan perubahan morfologi Anak Krakatau tetap dipantau secara intensif.

Sejarah kawasan Krakatau menunjukkan bahwa gunung api bukanlah bentang alam yang diam. Krakatau lama sebagian besar runtuh akibat letusan dahsyat pada 1883, kemudian melahirkan Anak Krakatau yang tumbuh dari dasar laut.

Lebih dari satu abad kemudian, Anak Krakatau masih terus berubah. Gunung api itu tumbuh, mengalami erupsi, kehilangan sebagian tubuhnya, lalu kembali membangun dirinya.

Itulah alasan Anak Krakatau disebut sebagai “anak”. Ia bukan sekadar gunung api dengan nama yang unik, melainkan bagian dari perjalanan panjang sistem vulkanik Krakatau yang telah berlangsung selama ratusan tahun dan masih terus berlanjut hingga kini.

Leave a Reply